Selasa, 29 Mei 2012

Cerita tentang om-om nakal

Melanjutkan kisah being single, stigma negatif menjadi seorang single juga melekat saat saya melakukan traveling. Memang tidak segencar stigma negative ke para jomblowati tapi cukup unik diceritakan di sini. 

my style
Jika saya bepergian sendiri, banyak orang-orang mencurigai saya sedang “tebar nafsu”, tak jarang mereka justru meminta referensi tempat “X” di kota tempat tujuan jalanku.  Jalan berdua pun tak luput dari curiga negatif orang, mereka selalu bertanya, apakah kami tinggal satu kamar? …  Kalau satu kamarpun Saya juga masih bisa jaga diri, jadi bayang-bayang jelek itu hanya dipikiran kotor yang bertanya (maaf, tetapi itu memang benar). Pertanyaan ini muncul tak hanya saat saya traveling berdua dengan seorang wanita, tetapi juga saat saya pergi berdua dengan seorang PRIA! (sayang fikiran sekreatif itu kok ya untuk urusan nafsu doang). Jalan rame-rame? Ternyata masih juga ada yang mengomentari negatif, rata-rata mereka meminta saya untuk ingat umur, karena sudah bukan ABG lagi yang suka jalan rame-rame.

Sebagian besar stigma negatif berasal dari  hotel tempat menginap. Tidak sedikit orang yang tak sengaja bertemu dengan saya di hotel, curiga bahwa saya sedang menyembunyikan “seseorang” di dalam kamar. Bahkan ada seorang teman kerja yang berusaha mencheck kamar, memastikan memang saya sendirian. Selain temany yang selalu curiga, saya juga punya teman yang “baik hati”. Maksud “baik hati”, adalah dengan mengirimkan “wanita yang baru saja dia pakai” ke kamar saya, karena kasihan melihat saya selalu jalan sendirian (serius!). 

Saya pernah menginap di sebuah hotel kecil di suatu kota di Sumatera (petunjuknya mudah tertebak), di pagi hari resepsionis membangunkan saya melalui telepon dan menawarkan menu sarapan. Uniknya ternyata terselip kata “wanita” dalam daftar menu ini. Iseng bertanya mengapa menawarkan wanita kepada saya, dan dijawab dengan santai (tanpa permintaan maaf loh) : “karena saya menginap sendiri”. Entah mengapa, saat saya menginap sendiri saya lebih aman tinggal di hotel esek-esek dengan tarif per-jam, di hotel ini justru tak ada gangguan ditawari wanita, dan lebih murah jika kita check in diatas jam 10 malam.
Saya pernah menemukan hotel "esek-esek” yang bersih,cenderung mewah, murah, dan tersedia alat sholat di dalam kamar”
Selalu dengan peta & brosur
Selain tempat menginap, konotasi negatif single muncul dari tujuan kita pergi traveling. Mereka selalu berfikiran hobi jalan-jalan saya hanyalah untuk “mencari lubang nafsu belaka”, dan salah satu pengalaman buruk itu dapat dibaca di sini. Saya pernah mencari dimana lokasi mata air air panas disuatu daerah tetapi yang saya dapatkan malah  rekomendasi tempat spa esek-esek.

Kadang saya tidak menyalahkan mereka, karena seiring dengan bertambahnya usia, perut makin membuncit, rambut makin membotak, kantung makin menebal dan tetap dengan status single, cukup sebagai alasan orang-orang mencurigaiku sebagai sindikat “om-om senang”. Apa itu? Sebutan untuk cowok matang yang kemana-mana suka menghabiskan uang untuk bersenang senang dengan wanita (juga pria). Yak memang jahat banget tuduhannya.

Dalam sebuah perjalanan, begitu turun dari bandara tak jarang saya mendapat promosi tempat “pemuas nafsu” (kembali karena alasan saya punya style om senang). Kadang cuma basa-basi, kadang gencar juga promosinya. Yang paling gila adalah saat saya naik taksi dari bandara kota Padang, si supir Taksi tak henti-hentinya meyakinkan bahwa Hotel yang saya tuju bukanlah hotel yang tepat untuk bisa “memasukkan wanita”, dia juga gencar menawarkan paket hemat semalam untuk 2 orang. Untung saya masih kuat iman (tapi nama saya Imam #eh).

Untuk urusan yang normal saja mereka mudah memberikan stigma om senang kepada saya, apalagi saat saya mencari tempat pijat. Pijat adalah hobi baru saya (atau doyan), dan juga kebutuhan akibat factor U. Walau suka pijat saya sering harus berfikir 2x sebelum mencoba tempat pijat diluar tempat pijat langganan. Saya menyadari sangat susah mencari tempat pijat yang “steril”. Dari pengalaman, memilih pemijat pria pun tak luput dari penawaran esek-esek !. Mengenai pijat ini, 2 minggu menginap di Bali, pengetahuanku tentang berbagai jenis “pijat sensual” meningkat pesat, karena memang selalu ditawari (kembali karena saya punya style om senang). Penawaran paling unik adalah paket pijat 12 jam! dengan tenaga pijat 2 orang (Busyet ini mau pijat atau mau menyiksa orang), tapi kalo ditung-itung murah juga tarifnya, (mau dishare no telpnya?)
 Pernah pijat ke tempat orang yang sudah tua dan malah mendapat teguran, “gak kasihan sama yang mijat pak?”. LOL
Walau sebenarnya merasa terganggu dengan berbagai tawaran esek-esek ini, tetapi unik mendengar seseorang yang mengeluhkan makin merajalelanya pelacuran, seakan pelacuran adalah hal baru. Padahal bisnis pelacuran adalah industri paling tua, di dunia. Saya tinggal & besar di dekat lokaslisasi Dolly Surabaya, lokasi pelacuran yang konon terbesar se asia, jadi sudah tak terasa asing lagi dengan hal esek-esek ini. Jujur, saya tidak pernah mencoba layanan mereka (jadi saya masih perjaka loh- PROMOSI).

Gara-gara tinggal di dekat Dolly ini, saya beberapa kali diminta menjadi “pemandu wisata”, untuk teman-teman saya yang datang dari luar kota yang penasaran seperti apa bentuk tempat pelacuran terbesar se asia. Saya bersedia menjadi pemandu wisata dengan catatan hanya sekedar berjalan - jalan bukan sebagai tamu wisma-wisma itu. Sebenarnya sangat mudah menemukan bisnis esek-esek di Surabaya, jaringannya sudah tersebar dijalan-jalan. Saya bisa menyebutkan lokasi jalannya karena memang ada di jalur ke tempat kuliah saya dulu. 

Cukup mudah mendapatkan jasa dari mereka, apalagi jika anda punya style om senang, tinggal nongkrong dan seseorang akan menawarkannya pilihan jasa, Saking mudahnya menjumpai bisnis esek - esek ini saya jadi mengerti mengapa orang punya alasan memberikan stigma yang buruk kepada semua pria yang traveling dan menginap di hotel sendirian. *lalu cari istri*

3 komentar:

  1. Kalau wanita yg melakukan perjalanan sendirian, apa akan ditawari om om ya? qiqiqiiq. Salam kenal :).

    BalasHapus
    Balasan
    1. hmmmm... perlu dilakukan riset ;-p

      Hapus
  2. Oalah mas Mami ternyata kisahnya seru juga, nggak nyangka juga sebenarnya XD

    BalasHapus