Senin, 12 November 2012

Hutan Terakhir Kota Surabaya

Jalur tracking Hutam Mangrove Wonorejo
Sebagai Kota metropolitan, Surabaya rupanya masih memiliki kawasan lindung berupa hutan mangrove, dan bisa disebut sebagai hutan terakhir yang tersisa di kota itu. Hutan Mangrove yang memiliki luas lebih dari  2.300 Ha ini terletak di Wonorejo, Rungkut atau pantai timur Surabaya. Di sekitar hutan ini terdapat buzem atau danau tempat pengendali banjir Kota Surabaya, sekaligus menghubungkan buzem ini dengan lautan (selat Madura). Apa jadinya jika Surabaya tidak melindungi kawasan ini ya?

Lay out Hutan Mangrove Wonorejo
Pemkot Surabaya menetapkan kawasan ini sebagai kawasan ekowisata sejak awal 2010. Kawasan ini juga merupakan kawasan ujicoba program konservasi hutan mangrove yang dilakukan Menteri kehutanan dengan Japan International Cooperatinon (JICA). Hutan terakhir ini memang perlu segera diselamatkan mengingat kawasan ini kian terdesak oleh pembangunan disekitarnya. Hutan ini berada diatara tambak-tambak petani dan juga terhimpit pembangunan real estate yang kian pesat. Kehilangan hutan ini artinya Surabaya akan juga kehilangan tempat pengendali banjir, kehilangan penahan abrasi air laut, hingga hilangnya habitat bagi 84 species burung & kawasan singgah 44 species burung imirgrasi.

Sebagai kawasan wisata, Hutan Mangrove Wonorejo ini tidak terjangkau kedaraan umum. Anda bisa menggunakan taksi untuk menjangkau kwasan ini, dan siap-siap menelpon taksinya untuk kembali menjemput anda. Ada 2 kegiatan yang bisa dilakukan disini, antara lain : tracking melintasi hutan mangrove dengan jalur sepanjang 500 meter atau berperahu sejauh 3,5 km menuju muara “Sungai Londo”.

Menara pantau yang sayangnya....
Jalur tracking berdiri diatas lahan gambut dengan kayu sebagai alas ini sebenarnya cukup nyaman, dan rindang oleh pohon mangrove, tetapi tetap saja hawa kota Surabaya yang sangat panas (apalagi ini di dekat pantai) membuat keringat mengucur.  Saya cukup menikmati berjalan – jalan di hutan ini, dengan pemandangan dari suatu ekosistem yang berbeda dari yang biasa saya lihat seharian. Di sini kita bisa mengetahui berbagai jenis pohon mangrove, dan berbagai biota unik seperti :  ikan yang bisa berjalan di lumpur. Di ujung jalur tracking ini terdapat menara bird watch yang sayangnya belum jadi. 

Belum puas, saya mencoba beperahu di “Sungai Londo” (entah apa nama aslinya, menuju Laut Wonorejo (sebenarnya selat Madura). Untuk perjalanan sejauh 3,5 km ini dibutuhkan waktu sekitar 20- 30 menit. Disepanjang jalan saya menjumpai berbagai jenis burung pantai/laut, & monyet ekor panjang yang katanya mendapatkan makanan dengan “memancing” kepiting dengan ekornya. Sebagai “orang yang tinggal di kebun” jumlah & ragam species yang saya temui di sepanjang sungai ini tidak sebanyak seperti yang saya jumpai di kebun tebu di Lampung.

Jalur tracking menuju gazebo
Perjalanan berperahu ini berakhir di muara sungai, tempat pertemuan sungai dengan laut (Selat Madura). Di sini biasanya kita “ditinggal” oleh perahu yang kita tumpangi, tapi jangan khawatir, mereka biasanya kembali lagi sekitar 40 menit -1 jam.  Di dermaga muara sungai ini terdapat Jalur tracking yang mengarah ke gazebo yang menghadap laut & sebuah restoran. Sayangnya jalur trackingnya yang mengarah ke gazebo itu terbuat dari bambu, yang menurut saya tidak cukup stabil (apalagi jika disana sedang padat pengunjung). Belum lagi saya melihat salah satu bagian gazebo yang ambruk ke laut, membuat saya sempat berfikir 2x untuk memasukinya.

Saya pikir jika di dalam hutan mangrove saja sudah panas, apalagi di gazebo di tepi pantai yang diberi nama “Poltabes” dan “Pertamina” (diberi nama sesuai dengan instansi yang membangunnya), tetapi ternyata saya salah. Berada di dalam gazebo ini sangat sejuk, tenang, dan hanya terdengar suara burung dan deburan ombak. Di lantai 2 gazebo pertamina anda bisa melihat view keseluruhan hutan mangrove, cocok untuk yang suka aktivitas bird watch. Lokasi ini sebenarnya juga cocok untuk aktivitas memancing, saya melihat banyak ikan berlompatan di jalur dari pertemuan arus sungai & laut. 


Gazebo pertamina
Sayangnya “kesyahduan” ini dirusak dengan perut saya yang lapar. Celakanya restauran disini ternyata tak buka setiap saat. Saya tidak membawa makanan dan minuman, dan tempat ini  tak memiliki akses ke daratan utama, membuat saya hanya bisa menunggu datangnya perahu, untuk membawa saya kembali ke daratan utama.

Saya mendengar ada perbedaan konsep dalam melindungi kawasan Hutan Mangrove ini. Konsep ekowisata dinilai bertabrakan dengan konsep konservasi. Peningkatan wisatawan akan meningkatkan polusi suara, yang selanjutnya bisa mempengaruhi burung-burung yang berimigrasi, yang konon sudah mulai berkurang jumlahnya. Saya berharap ada solusi tengah untuk menjembatani ini, mungkin dipisahkan antara kawasan yang boleh dikunjungi, dan kawasan yang benar-benar bebas manusia, Karena sayang sekali, jika warga Kota Surabaya tidak diberikan kesempatan menikmati kawasan yang berbeda dari keseharian mereka. Solusi ini bisa diawali oleh kita para pengunjung sendiri, dengan tidak menimbulkan kegaduhan dan yang terpenting tidak membuang sampah sembarangan. Saya menjumpai banyak sampah plastik & coretan-coretan tak penting terutama disepanjang jalur tracking

Dermaga di muara sungai
Hutan Mangrove Wonorejo ini sangat berpotensi menjadi eduwisata. Selama ini memang sudah berjalan program penanaman mangrove yang dilakukan sebagai bagian CSR berbagai perusahaan & pendidikan di lingkungan sekolah –sekolah di Surabaya & sekitarnya, tetapi tempat ini bisa memberikan lebih. Para pengunjung seharusnya bisa menjadikan tempat ini untuk mengenal (bukan hanya tahu) berbagai jenis Pohon Mangrove. Mungkin tempat ini perlu dilengkapi dengan lebih banyak lagi pamflet,atau papan informasi,atau bahkan sebuah theatre seperti yang ada monument kapal selam. Pengunjung disini juga bisa diajak untuk  mengenal berbagai jenis burung atau sebagai bird watch, terlebih kawasan ini sudah ditetapkan kawasan pantau burung imigrasi dunia. Hutan Mangrove wonorejo ini sebenarnya punya species unik, antara lain burung laut terbesar : Ardea purpurea, dan burung laut terkecil  (sebesar ibu jari) : Gerygone sulpurea. Saya sebenarnya penasaran apakah di daerah tersebut masih ada buaya. 

Walau belum sempurna tapi menjadikan Hutan Mangrove Wonorejo sebagai kawasan Ecowisata sudah sangat baik, Wah saya lebih banyak menggurui ditulisan ini dari pada bercerita di sana ada apa saja. Saya sempat melirik ada paket wisata berlayar dari Jembatan Suramadu, Jalasveva Jayamahe, & Hutan Mangrove Wonorejo ini, sayangnya saya belum sempat mencari tahu, maybe next time. Finally…. Untuk warga kota yang ingin melihat sisi lain kota Surabaya Hutan Mangrove Wonorejo wajib dikunjungi.

2 komentar:

  1. Hutam Mangrove Wonorejo, Hutan Terakhir di Surabaya
    memang sangat miris ditelinga kita khususnya Surabaya.

    kami dari girilaya.com mminta ijin untuk Share Info ini ke forum kami

    http://forum.girilaya.com/t294-hutam-mangrove-wonorejo-hutan-terakhir-di-surabaya#310

    Terima kasih

    BalasHapus