Kamis, 08 November 2012

Perjalanan Menjadi Seorang Diver

Saya terakhir ke Bali pada tahun 2007 silam. Saat itu saya 7 hari menginap di sebuah hotel berbintang dengan sebuah kolam renang yang tergolong mewah, sempat pula merasakan kamar jutaan rupiah permalamnya di hotel nikko yang memiliki kolam renang di sebelah laut dengan pemadangan fantastisnya, hingga 7 hari mengikuti event di tepi Pantai Nusa dua, tetapi tak sekalipun saya menyentuh air. Maklum, saat itu saya masih punya status “takut air”. Saat ini. 5 tahun hampir berlalu, saya kembali ke pulau dewata justru untuk memasuki dunia bawah airnya.

Sekitar 60% luas bumi dan 2/3 luas Indonesia adalah lautan, artinya akan ada banyak yang kita lewatkan tanpa kita bisa berenang. Berada 10 menit di dalam air akan membuat anda bertemu lebih banyak jenis species dibanding jika berada 1 jam di sebuah hutan. Spirit ini membuat saya untuk belajar berenang di tahun 2008, dan mulai menjajal diving di tahun 2011 lalu. Tak disangka pengalaman pertama diving di Aquarium Sea World ancol Jakarta membuat saya ketagihan (baca pengalaman kacau saya sebagai diver :di sini dengan tulisan yang juga kacau hehehe). Dari sini saya sudah bertekad menaikkan level dengan memegang license diving.

License diving itu ibarat sebuah SIM saat anda berkendara. Di beberapa tempat anda memang diijinkan diving tanpa license (dengan pengawasan) tetapi saya tidak menyarankan anda menyelam tanpa kemampuan dasar diving. Olahraga ini bisa membuat anda terdekompresisi (terputusnya kemampuan otak – otot akibat gelembung nitrogen), hingga kehilangan nyawa. Bahkan saking bahayanya diving, asuransi saya tidak mengcover kecelakaan saat melakukannya.

Proses mendapatkan license diving itu seperti mendapatkan ijazah sekolah, ada banyak jenis dan macamnya, ada  POSSI  (persatuan olahraga selam seluruh Indonesia) yang berafiliasi dengan CMAS italia, SSI, NAUI, atau yang paling umum & menjadi standard dunia adalah PADI. Mana yang lebih bagus? Semuanya bagus, yang penting anda dibimbing instruktur yang berlicense ingat ya harus instruktur, bukan dive master. Prinsipku : belajar dari orang yang tepat akan membentuk attitude safety diving yang bagus pula, imbasnya akan meminimalisasi resiko. Jenis kelas diving sendiri bermacam – macam : ada jenis pengenalan (bisa disebut try scuba/discovery scuba=tidak berlicense), Open water, advance, dan lain  sebagainya. Untuk pemula, saya memilih license open water, pemegang license ini diijinkan menyelam hingga kedalaman 20 m di seluruh dunia.

Lokasi Tulamben (sumber : diveconcepts.com)
Mendapatkan license diving itu mahalnya minta ampun (untuk ukuran kantong saya loh) sekitar 3 – 5 juta, dengan durasi 2-5 hari. Saya perlu melakukan program penghematan, untuk mengumpulkan modal, dan berani memulai pencarian tempat kursusnya.

Dari sebuah pameran saya punya referensi banyak tempat kurus penyelaman, dan saya jatuh cinta dengan Tulamben sebagai lokasi diving awal yang sempurna. Harganya tidak jauh beda di Jakarta bonus lokasi shipwreck yang keren belum lagi itu di Bali!.  Sayangnya untuk open water di Tulamben, dive center mensyaratkan minimal peserta sebelum memulai kelas, Saya booking di hari yang punya banyak calon peserta, walau hari yang saya pilih bertepatan dengan lebaran Idul adha.

Sepuluh hari sebelum berangkat saya menerima surel tentang pembatalan kelas yang saya booking, dimana dari 8 orang yang mendaftar hanya saya yang mendaftar ulang, 7 lainnya menjadwal ulang kelasnya. Saya bisa saja ikut menjadwal ulang, tetapi tiket pesawat sudah di tangan, hotel sudah dibooking, dan terpenting semangat sudah  membuncah tak terima lagi ditunda. Saya putuskan untuk go show dengan melakukan janji di beberapa dive center lewat surel.

Baru tersadar ternyata Bali punya banyak sekali dive center, khususnya Sanur & Nusa dua. Sayangnya (lagi-lagi) untuk diving di Tulamben, dive center2x itu mensyaratakan minimal 2 peserta, Akhirnya saya setuju begabung dengan dive center di Nusa dua, dimana di hari terakhir saya dijanjikan untuk diving di Tulamben dengan catatan ada teman lain yang bergabung.

Kelas menyelam ini dibagi 3 tahap, sesi teori didalam kelas, sesi kolam renang, dan kemudian di laut lepas. Pada sesi teori, materi diberikan melalui video,& penjelasan langsung dari  instruktur. Setiap akhir bab ada quiz, & ujian tulis di akhir sesi. Saya seperti menjalani rangkaian test Toefl, karena semua soal & materi disajikan dalam bahasa Inggris.  Jadi jika biasanya saya jarang menghabiskan waktu di hotel saat berlibur, kali ini setiap malam saya gunakan untuk membaca buku manual setebal 250 halaman. Semuanya test tulis berjalan dengan mulus, walau saya suka sulit membedakan kata sink & float (padahal beda banget hehehe). 

Pelajaran di kelas diselingi pelajaran praktik di kolam renang. Disini saya mempraktekan tentang apa yang saya pelajari di dalam kelas, mulai dari menyiapkan alat menyelam, bernafas melalui regulator, berkomunikasi, mengendalikan buoyanci (naik – turun dalam air), membersihkan mask, dan menjalani berbagai kondisi darurat lainnya. Bagi saya yang sudah akrab dengan kolam renang, belajar di kolam renang tidak begitu menyulitkan, tetapi sesi kolam renang yang bisa mencapai 2 jam, membuat saya capek luar biasa.
Tantangan pertama dalam sesi kolam renang adalah : memakai wet suit ! ini beneran tantangan berat untuk saya yang memiliki badan segede gaban

Pantai Nusa Dua
Pada sesi laut lepas, 2 sesi penyelaman awal dilakukan di laut Nusa dua pada kedalaman 10 – 12 meter. Walau semua materi sudah saya kuasai di kolam renang, tetapi entahlah ada perasaan takut yang menimbulkan “rasa mules di perut” setiap memasuki laut. Rasa takut mendadak membesar saat merasakan tekanan di laut yang lebih besar. Disini saya belajar beberapa teknik ekualisasi untuk menyesuaikan diri dengan tekanan dalam laut. Lambat laun rasa takut & panik berangsur hilang, terlebih saat melihat keindahan bawah laut Nusa dua. Yang unik selalu ada serombongan ikan warna-warni yang mengerubuti, saat saya mempraktekan semua teori penyelaman. Di sesi awal ini saya masih belum sepenuhnya menguasai kontrol badan, dimana saya bisa tiba-tiba terangkat ke atas atau mendadak menabrak karang…bener persis kayak bebek kena potas.

Tips menyelam : Bergeraklah dengan pelan & tetap bernafas secara teratur & dalam
Berjalan memasuki laut
Dua sesi penyelaman terakhir adalah ujian saya sebelum mendapat license open water diving, disini saya juga menerima log book yang akan berisi jam “terbang” saya dalam menyelam. Keinginan saya untuk mendapatkan license open water diving di Tulamben, akhirnya kesampaian juga, sepasang suami –istri asal India melengkapi quota, thanks ya. Di Tulamben kita mendapat pengalaman baru, dimana kita masuk laut dengan berjalan dari pantai. Karakter pantai di Tulamben yang berbatu, ombak ,pemberat 6 kg plus tabung membuat saya kesulitan berjalan masuk kedalam air. Berkali-kali saya terjerembab, karena terpeleset & terjangan ombak, tetapi pemandangan fantastis bangkai kapal perang amerika yang saat ini menjadi rumah ikan raksasa membayar segalanya.

Pantai Tulamben
Di salah satu sesi penyelaman saya sempat merasakan panick attack, terlebih saat memasuki bangkai kapal. Jenis wet suit pendek yang saya pakai membuat parno tergores bangkai kapal plus kebanyakan mikir negatif, membuat saya mendadak ketakutan hingga kesulitan bernafas. Pada posisi ini saya hanya bisa diam, mengatur nafas, hingga akhirnya bisa menguasai diri sendiri. Dulu saya pernah heran dengan cerita seseorang yang katanya sudah menguasai teknik penyelaman mendadak kejang-kejang saat memasuki sebuah bangkai kapal, ternyata  di sini saya belajar bahwa akan selalu ada situasi baru disetiap penyelaman, dan kita diharap selalu siap dan selalu menguasai diri.

Saat saya benar-benar bisa menguasai diri, saya baru bisa menikmati dahsyatnya keindahan bawah laut Tulamben. Di bawah kedalaman air hingga 20 meter saya sudah PD melepas masker, hingga melepas dan mencari kembali regulator saya, atau bertukar regulator emergency dengan buddy saya, walau masih sedikit kacau saya mulai bisa mengontrol bouyanci (pergerakan dalam air). 

Finally saya merasakan hal luar biasa saat di dasar laut. Saat memandang cahaya matahari yang masuk ke dalam laut dibalik terumbu karang yang tumbuh di seluruh bangkai kapal perang (pemandangan terbaik yang pernah saya lihat selama ini). membuat saya tersadar……. My life will never be the same again.

Minggu, 16 September 2012

Belajar menginap di Hostel

Tampak depan prince of wales
Awal tahun ini saya mendapat pengalaman untuk menginap di hostel pertama kalinya. Alasannya karena hostel menawarkan harga paling murah, plus hostel yang kami pilih berada di lokasi yang sangat strategis. Saya menginap di hostel bernama Prince of wales. Sebuah hostel yang terletak di Boat quay di tepi Sungai Singapura.  Lantai pertama dari Hostel Prince of wales adalah sebuah bar, sedangkan hostel terletak di lantai 2 dan 3. Boat quay memang dikenal dengan kawasan bar (baca Boat quay - Clarke quay). Lantai 2 di khususkan untuk kamar cewek, sedangkan lantai 3 dikhususkan untuk kamar campur cowok dan cewek. Dalam satu ruangan ada sekitar 12 tempat tidur bersusun. Tiap lantai dilengkapi toilet & kamar mandi bersama (tapi masih ada sekatnya kok). Ruangan kami juga dilengkapi locker kecil untuk menyimpan barang berharga, dan satu computer yang tersambung dengan jaringan internet.


Menu sarapan : kopi/teh, roti + buah
Berbeda dengan hotel, di hostel kita melayani diri sendiri. Pihak hostel hanya menyediakan seprei & selimut bersih di tempat khusus. Jadi tiap ingin mengganti seprei, selimut, & handuk kita sendiri yang melakukan plus meletakkan seprei, selimut, & handuk kotor pada tempat cucian saat kita check out. Walau kami juga mendapat sarapan gratis, tetapi kami sendiri yang menyiapkannya. Hostel hanya menyediakan bahan sarapan, dan kita sendiri yang harus membakar roti, menyeduh kopi/teh lalu mencuci sendiri semua peralatan yang kami pakai. 

Apakah aman? Ini singapura jadi segalanya aman, hasil searching di internet semakin memantapkan bahwa cukup aman untuk tinggal di hostel dan sharing dengan orang asing. Buktinya 5 hari 4 malam menginap saya tak pernah kehilangan barang, walau saya tak menggunakan loker. Teman di sebelah tempat tidur saya justru membawa tablet, ipod, BB bergelatakan begitu saja di atas tempat tidurnya. Toh pintu akses menuju kamar kita dilengkapi password dimana hanya yang tinggal di hostel yang bisa masuk ke dalam ditambah hostel juga dilengkapi kamera cctv.

Tidur di hostel artinya harus tinggal bersama dengan 24 orang asing baik cowok maupun cewek. Tempat tidur sebelah saya dihuni oleh seorang cowok asal korea, tempat tidur di depan ada 2-3 cewek asal swedia (ah lupa), sebelah kanan (sepertinya sepasang kekasih) asal perancis, ada juga orang yang saya duga dari India, dan beberapa bule berbahasa inggris tanpa aksen. Tinggal dengan orang dari berbagai negara, dengan berbagai kebudayaan yang sangat asing, plus dengan bahasa Inggris saya yang pas-pasan awalnya membuat saya tak nyaman. Perasaan tak nyaman juga disebabkan karena saya mengalami shock budaya. Beberapa menit merebahkan diri tempat tidur, saya disuguhi “pemandangan”, 2 cewek di depan kamar saya dengan entengnya mengangkat roknya mengambil kunci locker yang dia sembunyikan di celana dalamnya. Cowok disebelah juga dengan santainya mengganti celana tak peduli ada 2 cewek sedang mengobrol di depannya. Ada lagi Cowok Amerika dengan santainya berjalan-jalan dengan hanya memakai celana dalam ke kamar mandi melintas di depan kami, dengan kondisi…. You know lah apa yang terjadi saat cowok bangun tidur. Walau kamar mandi sudah bersekat tinggi, tetapi rasanya cukup aneh saat kita mandi sementara di sebelah kita ada 2 cewek yang juga mandi sambil mengobrol. 

Bar sekaligus tempat kami sarapan
Selepas malam pertama sempat berfikir untuk pindah ke hotel yang lebih punya privacy. Tetapi niat saya tertahan karena teringat satu hal yang diyakini back packer “untuk tidak pernah merasa asing di tempat asing”. Saya juga merasa tertantang melihat mereka yang bisa sangat nyaman dengan orang asing, walau dengan kemampuan berbahasa yang terbatas, tetapi mengapa saya tidak. Cowok korea disebelah saya selalu berusaha berbicara bahasa Inggris dengan sebuah kamus di tangan, dan ada beberapa orang berusaha berbicara bahasa Inggris dengan terbata – bata. Yang memang bahasanya sudah bahasa inggris pun tak menatap kami dengan pandangan aneh saat kami berbicara terbata-bata kepada mereka.Hal ini jadi meningkatkan kepedean saya untuk berkomunikasi (jadi teringat teman yang suka mentertawakan & menceramahi, hanya karena saya salah mengucapkan 1 kata bahasa Inggris).

Saya merasa kami semua memiliki kesamaan yaitu sama-sama jadi orang asing, jadi kesamaan ini membantu saya menyingkirkan fikiran menjadi orang yang terasing. Untuk mengatasi shock budaya, saya hanya menanamkan fikiran mereka semua satu ruangan adalah teman-teman yang perlu saya jaga kehormatannya, tak peduli saya kenal mereka atau sebaliknya. Dan entah mengapa saat saya berhasil menanamkan fikiran itu, perasaan ketidaknyamanan itu berangsur hilang sendiri. 

Selama di hostel saya juga mencoba mengamati perilaku orang-orang dalam hostel ini. Sikap “Individualisme” orang barat (yang kata pelajaran di sekolah buruk) tak selamanya buruk. Individualisme mereka hanya sebatas mereka tidak mau mencampuri sesuatu yang bukan urusannya (seperti menilai orang). Mungkin juga dengan harapan kita tidak mencampuri urusan mereka agar mereka bisa hidup nyaman sesuai dengan pilihannya. Karena inilah saya jadi merasa nyaman sharing bersama mereka.

Kamar kami mirip asrama
Tanpa aturan tertulis di hostel, mereka selalu bisa menjaga kenyamanan semua orang yang tinggal di ruangan itu. Contohnya setiap jam sebelas malam, otomatis lampu dalam ruangan kami mati, semua obrolan mendadak berubah menjadi berbisik dan mereka melakukannya tanpa ada satupun teriakan untuk tidak berisik. Jika sudah mati lampu, cara berjalan mereka pun berubah menjadi mengendap-endap agar tidak menghasilkan getaran yang mengganggu tidur kami. (ternyata mereka lebih berbudaya timur dari saya yang memang dari timur).

Walau tidak ada petugas toilet yang standby dan kamar mandi hanya dibersihkan pada satu waktu, Kamar mandi bersama kami masih jauh dari kesan jorok, jauh dari bau pesing, dan bahkan sebutir sampah pun tidak ada, (kok beda ya dengan di rum….. ah sudahlah). masing - masing penghuni hostel bertanggung jawab atas kebersihan tempat itu. Jika kenyamanan orang bisa dijaga sedemikian rupa maka saya juga merasa sangat percaya untuk urusan keamanan yang lain. Mungkin saya hanya beruntung mendapat hostel bagus, murah, strategis, dan teman-teman yang saling mendukung,

Kamis, 13 September 2012

Transit di 17 Agustus


Antri berpose dengan helikopter milik AU
Kebiasaan sejak tinggal di Lampung adalah selalu transit di Jakarta tiap pergi kemanapun. Saya memilih naik bus malam dari lampung dan tiba pagi hari di Jakarta untuk melanjutkan perjalanan via pesawat/kereta pada malam hari. Saya biasanya menyisakan waktu seharian di Jakarta sebelum melanjutkan perjalanan. Banyak yang bertanya mengapa harus transit selama itu ? Ada 3 alasan: 1. ada beberapa teman yang asyik untuk ditemui, 2. untuk menyalurkan hasrat hedonism setelah lama dikurung di kebun tebu 3. Dengan perjalanan lebih panjang, lebih banyak yang saya lihat, lebih banyak yang saya nikmati, lebih panjang cerita yang saya punya, kali saja ketemu jodoh #eh.

Selama ini urusan saya transit di Jakarta tak terlepas untuk pergi dari mall ke mall khususnya bioskop dan kuliner. Sayangnya, saya tak punya banyak waktu untuk transit pulang mudik tanggal 17 agustus kemarin. Entah mengapa saya khilaf dengan mengklik penerbangan ke Surabaya di sore hari. Alhasil maximal jam 2 siang saya harus segera cabut ke bandara. Tidak cukup banyak waktu untuk ke bioskop, karena  juga terpotong untuk sholat Jumat. Bisa sekedar mampir ke mall, tapi ke mall tanpa kuliner (karena memang sedang berpuasa) akan membuat saya mati gaya. Saya benar-benar tak punya ide menghabiskan waktu, karena teman yang bisa diajak jalan dah mudik duluan. 

Versi live Vs televisi
Mendadak punya ide untuk menyaksikan upacara kemerdekaan di Istana negara secara langsung. Selain mengobati rasa bersalah karena kabur dari upacara bendera di kantor, Ide ini muncul tiba-tiba karena adanya pengalihan arus yang menyebabkan saya terkatung-katung di sekitar Monas. 

Saya baru tahu bahwa sulit menyaksikan proses upacara secara langsung karena tata panggungnya tertutup. Bisa juga memaksa “merangsek” ke depan, tapi kok ya harus berhadapan dengan bapak-bapak yang memegang senjata. Akhirnya saya hanya bisa menyaksikan jalannya upacara dari layar televisi yang disediakan di belakang panggung paduan suara. Saya tidak sendirian mengikuti jalannya upacara di balik panggung paduan suara, banyak turis asing diantara mereka. Sayang, seharusnya upacara tujuh belasan bisa didesain sebagai tontonan yang menarik wisatawan asing.

Ternyata aktivitas penonton dibelakang panggung juga tak kalah asyik. Saya memperhatikan aktivitas crew televisi, lengkap dengan mbak-mbak cantik reporter yang selama ini hanya bisa saya nikmat didepan layar kaca. Berada di belakang panggung sebenarnya juga jadi kesempatan untuk masuk TV, saya melihat beberapa orang yang beruntung diwawancarai oleh crew TV. Saya melihat beberapa diantara mereka yang berusaha menghilangkan kegrogiannya …. Yak kenapa tidak ada yang mewawancarai saya? (mungkin karena waktu itu juga belum mandi hehehe).

Antri berfoto bersama taruna
Saya juga memperhatikan seorang turis asing (sepertinya dari korea) yang sibuk dengan petanya. Mereka sepertinya memastikan bahwa mereka berada pada tempat yang benar. Di sisi lain saya memperhatikan ibu-ibu, remaja putri, dan para pria metroseksual yang berebut foto bersama dengan para taruna peserta upacara. Tidak hanya obyek manusia, beberapa alat militer milik TNI juga jadi sasaran untuk berfoto bersama. Yang paling seru dari rangkaian aktivitas belakang panggung adalah para taruna yang beradu yel-yel.

Adu yel-yel antar pasukan

Tak terasa waktu akan menunjukkan sholat jumat, saya bergegas mencari lokasi masjid terdekat, dan Masjid Istiqlal adalah masjid terdekat dari lokasi "nongkrong" saya saat itu. Saya baru tersadar bahwa hampir 7 tahun bolak balik lewat masjid terbesar se-asia tenggara tapi tak sekalipun berhenti tuk sekedar sholat disana. Memang mudah menemukan Masjid Istiglal, Walau trotoarnya nyaman, bersih & rimbun oleh pepohonan, tetapi saya merasakan jalurnya tak cukup ramah. Satu jalur trotoar dengan trotoar lain tak tersambung dengan sarana penyeberangan jalan yang baik. Di sini saya bertemu 2 wisatawan korea tadi yang ternyata juga berusaha keras menemukan Icon Jakarta ini. Sepertinya mereka setuju dengan pendapat saya. 

Suasana di dalam Istiqlal
Saya mengagumi arsitektur Masjid Istiqlal, yang berdiri berdampingan dengan Gereja terbesar di Indonesia, sebagai perlambang toleransi beragama di Indonesia. Masjid yang terdiri dari 5 lantai ini tak hanya besar diukuran, tetapi juga memiliki jamaah yang sangat-sangat banyak. Saking banyaknya, sudah cukup buat parno bagi saya yang memang sering mengalami kehilangan arah, atau sekedar untuk mengingat dimana arah saya masuk, apalagi dimana saya meletakkan sendal (hehehehe). Saya juga parno untuk batal wudhu, karena membayangkan harus melangkahi ratusan jamaah sebelum sampai ke tempat wudhu yang juga sangat jauh. (di Masjid Istiqlal aja udah parno, gimana nanti di Masjidil Haram ya?).

Yang menarik, saya baru tahu jika sebelum sholat jumat ada pembacaan ayat suci Al-quran yang dilakukan secara live, bukan dengan rekaman seperti masjid-masjid lain di Indonesia. Selepas sholat, saya menjumpai kondisi yang tak berbeda dengan masjid-masjid lain di kota besar.Di halaman masjid saya jumpai banyak orang berjualan dan juga pengemis. Para pengemis ini tak hanya ada di halaman masjid, tetapi juga diselasar dalam masjid berbaur dengan jamaah yang memang menunggu teman/saudaranya Sholat Jum’at. Beruntung saya hari itu bertemu seorang pengemis yang mengomel karena tak mendapat uang sepeser pun. 

Pengemis di selasar masjid diantara ribuan jamaah
Sibuk memperhatikan hiruk pikuk orang membuat saya nyaris tak tersadar jika jam sudah menunjukkan jam 2, hampir terlambat untuk pergi ke bandara. Dan aktivitas transit Jakarta 17 agustus itu ditutup dengan penerbangan ke Surabaya yang delay 2 jam lebih huppff.

Rabu, 08 Agustus 2012

Ramadan di Kota Banjarmasin

Tampak depan Masjid Raya Sabilal Muhtadin
Dari sedikit kota di Indonesia tempat saya pernah melalui Ramadaan, saya memilih Banjarmasin sebagai yang terbaik. Saya menjalani 2x Ramadan di kota ini, yaitu tahun 2004 & 2005. Sebagai kota yang penduduknya lebih dari 90% adalah muslim (CMIIW), Atmosfir Ramadan di sini lebih terasa dibanding kota lain di Indonesia. Minimal tidak seperti di mall di kota Surabaya/ Jakarta/ Bandar Lampung yang dengan mudah kita mendapati orang yang tidak berpuasa (#eh tapi tahun 2004 - 2005  Banjarmasin belum punya mall?). Sebenarnya secara prinsip tak ada yang berbeda Ramadan di Banjarmasin dengan Ramadhan di kota lain di Indonesia. Suasana berbuka puasa, sahur, tarawih, tadarus, petasan hingga ‘ritual’ ngabuburit (lupa istilahnya dalam Bahasa Banjar, kerena burit dalam bahasa banjar = pantat) masih sama dengan kota lain. Lalu apa yang membuatnya istimewa ?  Makanannya! (jiaaah….).

Salah satu sudut hijau masjid
Wilayah Masjid Raya Sabilal muhtadin adalah wilayah favorit saya dalam melakukan ritual ngabuburit, Nama Masjid Sabilal Muhtadin sendiri diambil sebagai penghargaan terhadap ulama besar Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary (1710-1812) yang selama hidupnya memperdalam dan mengembangkan Islam di Kerajaan Banjar. Masjid terbesar di kota Banjarmasin ini berada di lahan seluas 100.000 Hektar. Areal masjid dikelilingi pepohonan  membentuk  hutan kecil. Masjid ini berada di dekat bantaran Sungai Martapura, sungai terbesar di Kota banjaramsin. Lokasi ini dipilih mengingat jalur transportasi sungai masih banyak diandalkan oleh warga pedalaman. Pada beberapa pengajian akbar saya melihat rombongan jamaah yang datang dengan menggunakan perahu tradisional.  

Masjid raya dari sisi Sungai
Ritual ngabuburit biasanya saya lakukan dengan duduk di bawah pohon, atau di dekat air mancur atau berjalan di bantaran sungai sambil mengamati orang yang sedang mandi di sungai menikmati sunset dengan latar sungai martapura (#eh lupa arah). Kadang saya menghabiskan waktu menelpon (mantan) gebetan, (yang sekarang sudah jadi istri orang). Ritual berakhir dengan merenungi betapa mahalnya pulsa yang saya habiskan..hehehehe (lah kok malah curcol). Untungnya saya tak perlu mengeluarkan uang untuk berbuka puasa.
Masjid raya Sabilal Muhtadin (juga sebagian besar masjid, di sana) selalu menghidangkan takjil dan juga buka puasa gratis. Menu buka puasa yang disediakan biasanya berupa bubur dengan kuah (seperti) soto banjar (Saya menyebutnya sebagai bubur banjar, entah apa namanya). Tak usah malu dianggap mencari gratisan. karena menurut pengamatan berbuka bersama di masjid semacam menjadi budaya setempat. Saya sering melihat rombongan keluarga berbuka puasa bersama di masjid walaupun dengan jelas mereka dari kalangan berada. Bahkan Presiden SBY pun pernah melakukan hal yang sama saat berkunjung di kota ini, menunya bukan bubur lagi, tapi itik banjar yang terkenal itu.

Bingka (sumber : georgetterox.wordpress.com)
Di belakang Masjid Raya Sabilal Muhatdin di bantaran Sungai Martapura biasanya diadakan semacam bazar kuliner. Mereka menyebutnya sebagai pasar wadai (wadai = kue/kudapan). Yang unik sebagian besar kuliner disini tak akan anda jumpai di kota lain di Indonesia. Yang menjadi favorit saya diantara banyak kuliner itu adalah Bingka. Bingka itu adalah semacam pai labu, dengan menggunakan telur itik. (beberapa varian menggunakai tape, ketan, dll). Kue ini tak hanya susah didapat di kota lain di Indonesia, juga bakal susah didapat di Banjarmasin di luar bulan Ramadan. Saya pernah mencoba membuat bingka sendiri. hasilnya gosong diatas, mentah di tengah (hihihi chef gadungan). Makanan favorit saya yang lain adalah aneka ayam & ikan panggangnya yang disajikan dengan bumbu merah yang khas dan tentu saja ketupat & nasi kuning banjar.

Selepas berbuka puasa biasanya saya lanjutkan dengan tarawih 20 rakaat. Bagian favorit saya dalam Sholat Tarawih disini adalah Khotbahnya, terlebih jika itu disampaikan oleh Imam besar masjid saat itu (maaf saya lupa namanya). Saya suka cara Imam besar masjid menyampaikan ceramah agamanya yang ditelinga seakan mendengar beliau mendongeng ke anak cucunya. Walau beberapa bagian saya tidak mengerti (karena sebagian besar disampaikan dalam Bahasa banjar) saya tetap menikmatinya dan ikut tergelak tanpa tahu lucunya dimana 

Satu harapan saya adalah merasakan lagi Ramadan di kota ini bersama keluarga saya nanti….. hmmmmm (anyone?)

Salah satu aktivitas Sungai Martapura